Rumah Berita Berita industri Indonesia Melarang Ekspor Minyak Sawit, Berdampak pada Harga Pangan Global
Indonesia Melarang Ekspor Minyak Sawit, Berdampak pada Harga Pangan Global
Berita industri / Ngobrol online / Beri aku harga / Tanggal: 29 April 2022
Mulai tanggal 28 April 2022, Indonesia telah memulai larangan total terhadap ekspor minyak sawit, sebuah tindakan yang dapat mengancam harga pangan global dan memberikan tekanan ekstra pada harga minyak goreng yang sudah tinggi di seluruh dunia.
Pemerintah Indonesia mengakui bahwa larangan ekspor minyak sawit akan merugikan konsumen internasional namun menganggap perlu untuk menurunkan harga minyak goreng bermerek dalam negeri, yang melonjak dari 14.000 menjadi 15.000 rupiah (US$0,96 hingga US$1,03) per liter menjadi lebih dari 22.000 rupiah (US$1,52) per liter. Presiden Joko Widodo mengatakan dalam pernyataannya pada tanggal 27 April bahwa larangan tersebut akan dicabut setelah permintaan lokal terpenuhi dan harga stabil.
Indonesia, produsen minyak sawit terbesar di dunia, pada hari Jumat mengumumkan rencana untuk melarang ekspor minyak nabati yang paling banyak digunakan, sebuah langkah mengejutkan yang dapat semakin memperburuk lonjakan inflasi pangan global.
Mengapa larangan ekspor minyak sawit di Indonesia mempengaruhi harga pangan global?
1, Indonesia merupakan produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia, sedangkan minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi dan diperdagangkan di dunia sejauh ini.
Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, 77 juta ton minyak sawit diperkirakan akan diproduksi tahun ini – Indonesia akan menyumbang sekitar 60 persen pasokan global.
2, Minyak sawit memiliki kegunaan yang sangat luas di berbagai industri;
Hanya tumbuh di daerah tropis, pohon kelapa sawit menghasilkan minyak berkualitas tinggi yang digunakan sebagai bahan umum dalam kosmetik dan barang-barang rumah tangga, seperti deterjen, margarin, sabun, coklat, kue, produk pembersih, biofuel, dan lain-lain.
Apa dampak global spesifik dari larangan ekspor minyak sawit yang dilakukan Indonesia?
India, Tiongkok, Pakistan, dan Spanyol adalah tujuan utama minyak sawit Indonesia dan berita pelarangan ini telah membuat negara-negara tersebut berebut mencari sumber alternatif. Ambil contoh India, India menerima 50 persen minyak sawit mentahnya dari Indonesia, yaitu sebesar 8 juta ton per tahun. Dengan pelarangan ini, minyak nabati, yang saat ini berada pada titik tertingginya, diperkirakan akan terus meningkat.
Merek global juga diperkirakan akan terkena dampak larangan tersebut. Pada tahun 2020, Nestle membeli sekitar 450.000 ton minyak sawit dan minyak inti sawit dari Indonesia dan Malaysia, sedangkan Procter & Gamble menggunakan sekitar 650.000 ton minyak sawit pada tahun fiskal 2020-2021 untuk beragam produk kategori kecantikan dan rumah tangga. Sekitar 70 persen minyak sawitnya bersumber dari Indonesia dan Malaysia.
Merek global lainnya yang sangat bergantung pada minyak sawit adalah L'Oréal, Ferrero, Danone, dan Unilever, dan harga produk mereka mungkin akan meningkat selama larangan tersebut terus berlanjut.
Singkatnya, langkah Indonesia untuk menghentikan sementara ekspor akan memberikan tekanan ekstra pada harga minyak goreng bagi konsumen di sebagian besar dunia. Menghadapi situasi khusus ini, saya yakin semua negara punya solusinya masing-masing.
Sumber: Laporan ini diteruskan dari ASEAN Briefing.

